Fundamentalis Kopi yang Sebaiknya Tidak Anda Ikuti | Sindikat Penikmat Kopi Sobek


Berbeda pilihan dalam menikmati kopi merupakan hal wajar. Toh, kita tetap bisa berbagi meja dan cerita. © Nody Arizona

Perkembangan dunia kopi di Indonesia dari hulu sampai hilir cukup baik. Teorinya sederhana, makin banyak kompetisi, makin banyak kedai kopi, makin sering terjadi edukasi konsumen, maka akan membuat dunia kopi bergerak secara dinamis. Apa yang terjadi di hilir berpengaruh di hulu. Ketika permintaan kopi dengan kualitas baik terjadi di hilir (petik merah sampai pengolahan pascapanen), maka di hulu akan mengikuti. Ketika kompetisi ketat terjadi di hilir maka keadilan harga terjadi di hulu. Pendek kata, dunia kopi di Indonesia cukup menggembirakan.

Tapi tentu saja di tengah gelombang dinamika tersebut, pasti ada hal-hal yang berkembang keluar dari jalur pakem. Semacam fundamentalisme baru berkembang. Setiap pemikiran ‘kanan’ semacam itu, pasti lahir dari sesuatu yang berlebihan. Sesuatu yang berlebihan berasal dari kurangnya pengetahuan tentang sejarah, budaya, dan hampir dipastikan kehilangan konteks.

Di dunia kopi, ada beberapa hal yang menuju ke arah ‘kanan’, memahami kopi dengan garis keras semacam gerakan fundamentalis. Apa sajakah itu?

Pertama, gerakan kopi tanpa gula. Kampanye ini bauran dari dua kampanye: kampanye tidak mengkonsumsi gula dan kampanye aturan dalam uji citarasa kopi (cupping).

Anda perlu tahu bahwa kampanye tidak mengkonsumsi gula itu tidak diperuntukkan buat semua manusia. Kesehatan manusia itu khas dan personal. Tidak ada rumus satu model kesehatan yang bisa persis diterapkan ke orang lain. Ada yang makan nasi saja tidak boleh karena kadar gula nasi tinggi. Tapi ada yang konsumsi gulanya sangat kurang. Kekurangan gula juga sangat membahayakan tubuh kita.

Sedangkan uji citarasa kopi memang tidak boleh memakai gula supaya kita bisa mencandra semua karakter kopi yang kita cicip. Tapi menguji bukan berarti selamanya Anda harus minum kopi tanpa gula. Kalau secara kultural Anda terbiasa menikmati kopi dengan gula ya pakai saja. Tidak ada masalah. Daripada Anda ingin merasa keren dengan minum kopi tanpa gula, padahal Anda tidak bisa menikmatinya.

Kedua, kopi saset itu jelek. Edukasi konsumen itu bagus. Kenapa? Agar konsumen bisa membedakan mana kopi yang berkualitas dengan yang tidak, yang kualitasnya bagus dengan yang kurang bagus. Kualitas punya hubungan dengan harga. Tapi tidak ada hubungan dengan kesukaan. Itu dua hal yang berbeda. Anda tahu ayam kampung lebih berkualitas dibanding ayam pedaging. Tapi belum tentu Anda suka ayam kampung dibanding ayam pedaging. Anda tahu kualitas mi resto mewah pasti lebih baik dibanding mi instan. Tapi belum tentu selera Anda memilih mi resto mewah.

Tahu kualitas bukan berarti terus menjelek-jelekan yang lain. Sebab rasa suka kadang tidak ada hubungan dengam kualitas barang. Cermati saja kehidupan Anda sehari-hari. Jadi, silakan kampanyekan dan edukasi konsumen kopi tanpa harus meruntuhkan selera mereka, tanpa harus menjelek-jelekkan produk lain.

Ketiga, kopi Arabika adalah segalanya. Ya benar, kita adalah surga kopi arabika. Ya benar, kopi arabika harganya mahal karena kualitasmya bagus. Tapi bukan berarti kopi lain seperti robusta dan kopi lain jelek. Memang penting memperkenalkan kopi arabika ke konsumen. Tapi tidak harus menganggap kopi jenis lain tidak bermutu. Lagi-lagi, secara historis, lidah kita memang dekat dengan robusta. Jangan salahkan lidah kita. Lidah kita punya sejarah sosialnya sendiri. Hanya saja memang perlu lidah kita ‘dididik’ untuk tahu dan mengenali beda-beda jenis kopi.

Jadi tetaplah ngopi dengan merdeka. Tidak perlu heroik dan bermain citra. Nikmatilah kopi dengan senyum dan rasa jujur. Tidak perlu ada topeng. Tidak perlu mengikuti kaum fundamentalis kopi yang kadang lebay itu.

Banyak Yang Mencari Informasi Seputar:
Cupping, Kopi Arabika, Kopi Robusta, Kopi Saset, Kopi Tanpa Gula, Pengalaman Ngopi, Uji Citarasa Kopi, kopi sachet, kopi sobek, penikmat kopi

Sumber. https://www.minumkopi.com/fundamentalis-kopi-yang-sebaiknya-tidak-anda-ikuti/

Komentar